Swafoto atau selfie sudah menjaga kegiatan umum yang dilakukan hampir semua orang. Bahkan untuk sejumlah remaja, selfie adalah kewajiban yang patut dilakukan. Hal tersebut tak terlepas dari dorongan aktualisasi diri di media sosial yang semakin meningkat di era digital.

Memang tak ada yang salah dari selfie, Milk Lovers. Akan tetapi, kebiasaan tersebut menyimpan potensi membahayakan bagi kesehatan mental mereka, sebut saja kecemasan berlebih hingga depresi. Kok bisa? Bagaimana mungkin kegiatan foto-foto dan mengunggahnya ke jejaring sosial dapat membuat psikologis remaja jadi terganggu?

Mengantarkan Remaja Pada Citra Diri Negatif

Salah satu kecenderungan yang dilakukan pengguna media sosial adalah menampilan konten terbaik di akunnya. Sebut saja di Instagram yang menggunakan foto, gambar, serta video sebagai konten utama mereka. Demi memenuhi tujuan tersebut, mereka rela memotret berkali-kali hingga pergi ke tempat tertentu demi mendapatkan selfie yang dianggap memuaskan buat dipamerkan. 

Sayangnya, rasa tak puas akibat angle, tata cahaya, atau fitur wajah sendiri akan membuat remaja berpikir imej mereka negatif. Sebuah riset yang diterbitkan pada The Journal of Early Adolescence mengungkapkan bahwa remaja yang mengunggah selfie dalam jumlah banyak tanpa sadar memiliki kesadaran tinggi terhadap penampilan dirinya sendiri. Hal ini berbanding lurus dengan naiknya citra negatif pada bentuk tubuh tertentu.

Masih dari riset yang sama, disebutkan bahwa gadis remaja yang terlampau sering mengambil selfie cenderung mudah khawatir atau gelisah. Setidaknya 35% di antara mereka cemas akan penampilan pada selfie yang diunggah teman-temannya. Sementara 27% akan khawatir saat foto itu diunggah oleh diri sendiri di media sosial. Apa Milk Lovers salah satu orang yang merasakan hal tersebut?

Terobsesi Menjaring Jumlah Likes Banyak

Likes di Instagram atau reaction serupa di media sosial lain merupakan fitur yang digunakan para pengguna untuk menunjukkan bahwa mereka menyukai konten yang bersangkutan. Dengan kata lain, semakin banyak likes yang diperoleh, maka sang pemilik konten merasa semakin ‘disukai’.

Sayangnya, pikiran beberapa remaja yang menggunakan media sosial jadi kacau saat mereka ketergantungan dengan likes, terutama saat tak memenuhi ekspektasi mereka. Lantas agar jumlah likes kembali naik, mereka rela melakukan apa pun. Dari mengunggah foto yang kontroversial, video prank, hingga mencuri ilustrasi dari pengguna lain. Bahkan ada yang sampai merundung dan menyebarkan berita palsu.

Dalam situasi seperti ini, orangtua harus acuh terhadap kebiasaan penggunaan media sosial. Ajak mereka berdiskusi sesekali atau sekadar tanyakan kegiatan mereka di sekolah untuk mendistraksi atensi dari media sosial. Pasalnya, Milk Lovers, tak sedikit remaja yang mengunggah selfie maupun konten lainnya demi mendapatkan perhatian yang tak diperoleh dari orangtua mereka.