Kematian aktor dan politikus Adjie Massaid pada 2011 silam mengejutkan banyak pihak. Betapa tidak, Milk Lovers? Pria yang saat itu masih berusia 44 tahun tersebut divonis menderita serangan jantung. Sementara beberapa saat sebelumnya Adjie masih sempat main sepak bola bersama kawan-kawannya.

Keajadian ini pun membuat orang-orang bertanya-tanya. Bagaimana bisa seseorang terkena serangan jantung hingga meninggal saat berolahraga? Padahal latihan fisik itu punya manfaat melancarkan aliran darah dan performa jantung. Lantas, apa pemicu yang menyebabkannya?

Penyebab Serangan Jantung Saat Olahraga

Serangan jantung termasuk gangguan yang tak kenal umur. Namun, memang ada golongan tertentu yang lebih riskan mengalaminya. Misalnya saja mereka yang punya riwayat keluarga, penyakit bawaan, hingga konsumsi obat-obatan.

Bob Harper, trainer selebritis asal Amerika Serikat, adalah salah satu orang yang pernah mengalami serangan jantung. Seperti mendiang Adjie Massaid, pria berusia 51 tahun tersebut menjalani gaya hidup sehat dan pola makan teratur. Kemudian saat ditelusuri, ternyata ibunya meninggal akibat serangan jantung, sehingga kemungkinan besar faktor genetik menjadi penyebab utama pada kasusnya.

Berdasarkan American Heart Association, sekitar 350 ribu orang di Amerika Serikat mengalami serangan jantung. Sebagian besar di antaranya terjadi saat mereka berolahraga, Milk Lovers. Hasil riset terhadap 848 kasus serangan jantung mendadak dalam Journal of the American College of Cardiologi yang terbit pada 2013 menyatakan bahwa sekitar 52 peristiwa terjadi di tempat olahraga biasa, 84 peristiwa di lokasi alternatif, serta 713 lainnya di tempat yang tak berkaitan dengan olahraga.

Gejala dan Penanganan yang Harus Diambil

Buat Milk Lovers yang rajin olahraga maupun tidak, perlu mengetahui berbagai gejala yang mengiringi serangan jantung, antara lain:

  • Sensasi tak nyaman pada dada dan bagian tubuh lainnya (rahang, leher, lengan, perut, dan punggung);
  • Sesak napas;
  • Kelainan pada detak jantung;
  • Keluarnya keringat yang kurang normal;
  • Sering merasakan pusing.

Milk Lovers sebaiknya menghindari juga beberapa kebiasaan buruk yang berisiko meningkatkan serangan jantung, seperti merokok, minum minuman beralkohol, dan mengonsumsi obat tanpa resep dari dokter. Rutinlah mengonsumsi susu karena susu diketahui bisa membantu mengurangi risiko penyakit kardiovaskular (CVD) yang berhubungan dengan jantung. Dilansir dari laman situs Kompas.com, menurut penelitian Kohort pada 2012, peningkatan asam lemak dalam susu sebesar 5 persen dapat mengurangi risiko CVD sebesar 38 persen.

Harper pun menyebutkan ada baiknya Milk Lovers mengenal kondisi tubuh sendiri agar dapat mendeteksi gangguan sekecil mungkin untuk segera diperiksakan ke dokter. Pantau juga apakah tempat kebugaran yang menjadi langganan Milk Lovers. Apa mereka menyediakan fasilitas buat keadaan darurat seperti alat pacu jantung, AED, alat CPR, dan petugas yang bisa memakai alat tersebut. Termasuk di antaranya tempat mereka menyimpan peralatannya.

Sifatnya yang tiba-tiba membuat serangan jantung ditakuti banyak orang, tak terkecuali buat mereka yang rajin berolahraga. Namun, mengantisipasinya sedini mungkin diharapkan membantu Milk Lovers supaya lebih waspada dan mengambil tindakan lebih cepat.