Di awal kemunculannya, sosial media bertujuan sebagai sarana bersosialisasi dan komunikasi dengan keluarga, teman dan kerabat yang jauh lewat dunia maya. Dengan begitu, meskipun jarak memisahkan, Anda masih bisa terkoneksi dan bisa saling memberikan kabar terbaru.

Seiring berjalannya waktu, kebanyakan orang justru malah lebih asyik nongkrong di sosial media. Bahkan bagi sebagian orang, menjalin komunikasi dan bersosialisasi di dunia maya lebih menyenangkan ketimbang interaksi langsung di dunia nyata.

Kondisi inilah yang pada akhirnya membuat banyak orang menyebut jika sosial media bisa membuat Anda jadi anti-sosial. Benarkah seperti itu?

Antisosial atau yang bisa disebut schizoid, merupakan sebuah gangguan kepribadian dengan ciri khas, pengidapnya benar-benar menghindari hubungan dengan orang lain dan tidak menunjukkan banyak emosi. Mereka benar-benar lebih senang menyendiri, dan minim kontak sosial.

Jika mengacu kepada pengertiannya, sepertinya terlalu berlebihan jika sosial media membuat seseorang jadi anti sosial. Tapi meskipun begitu, fakta membuktikan jika kualitas hubungan sosial seseorang di dunia nyata bisa berkurang akibat terlalu asyik di sosial media.

Hal ini terungkap lewat sebuah penelitian yang dilakukan peneliti dari Baylor Medical University, Dallas, Amerika, yang menyebut terlalu sering berinteraksi di dunia maya justru berisiko membuat seseorang mengurangi kegiatan bersosial di dunia nyata.

Misalnya, seorang anak remaja akan membatasi waktunya bicara banyak hal dengan Ibu atau Ayahnya karena asyik membalas komentar di sosial media, membalas chat dari temannya yang mungkin di dunia nyata belum pernah saling bertemu, dan lainnya.

Selain itu, obrolan di halte bus sambil menunggu bus datang pun kini mulai berkurang karena hampir semua orang lebih asyik menatap layar gadget ketimbang menyapa orang yang ada di sampingnya.

Menurut Shannon Poppito, psikolog dari Baylor Medical University, gambaran kondisi di atas merupakan realita. Mau tidak mau kita harus mengakui jika kualitas bersosial kita mulai berkurang karena sosial media telah berhasil membatasinya.

Untuk itu, Shannon mengingatkan agar kondisi ini jangan terus dibiarkan. Hal ini bisa dimulai dari dalam keluarga dengan membuat aturan pembatasan waktu memegang gadget. Bahkan jika dibutuhkan, buat aturan jam-jam khusus dilarang memegang gadget, dan fokus untuk duduk bersama dan saling bicara.