Memiliki smartphone kini tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan komunikasi saja, tapi juga sudah masuk dalam kebutuhan gaya hidup yang harus dimiliki semua orang. Tidak hanya orang tua, anak remaja pun kini sudah pegang smartphone sendiri.

Sepintas kehadiran smartphone terlihat sangat positif karena kebutuhan komunikasi dan informasi bisa didapatkan dengan mudah. Selain itu, anak-anak pun kini sudah aware teknologi sejak dini, yang pada gilirannya berimbas positif pada kemampuan belajarnya.

Sayang Milk Lovers, jika digunakan secara berlebih, smartphone bisa sangat berbahaya bagi kesehatan, baik kesehatan fisik ataupun kesehatan mental.

Dilansir dalam boldsky, sebuah penelitian yang dilakukan tim peneliti dari Duke University, North Carolina, Amerika, menyebut jika penggunaan smartphone secara berlebih berisiko menyebabkan gangguan mental, dan masalah perilaku bagi anak remaja.

Dalam keterangannya, Madeleine George, peneliti dari Duke University, menyebut jika hasil penelitian ini kembali mengingatkan agar orangtua lebih bijak dalam memberikan smartphone kepada anak-anak, terutama pada mereka yang memasuki usia pra-remaa dan usia remaja.

Penelitian ini sendiri dilakukan dengan melibatkan sebanyak 151 remaja asal Amerika dengan usia 8-18 tahun, dengan cara meneliti intensitas penggunaan smartphone, dan mengaitkannya dengan perilaku mereka dalam kehidupan sosialnya.

Hasilnya, anak remaja yang menghabiskan waktu sekitar 4-7 jam per hari untuk berselancar di dunia maya, baik membuka sosial media, forum online atau melakukan percakapan chatting, cenderung memiliki sikap agresif, mudah berbohong dan perilaku buruk lainnya.

Lebih lanjut lagi, George menyebut jika perubahan perilaku ini terjadi secara bertahap. Menurutnya, smartphone telah melemahkan kontrol anak-anak terhadap kehidupan sosial, yang pada gilirannya memperburuk kesehatan mental mereka.

Bagaimana cara mengatasi masalah ini?

Mengenai hal ini, george mneyarankan agar anak remaja membatasi aktivitas mereka di dunia maya, baik untuk bermain di sosial media, atau nongkrong di forum online. Sebaiknya, anak remaja harus didorong untuk aktif melakukan aktivitas fisik dan bersentuhan langsung dengan lingkungan sosialnya.

Saat anak remaja mampu mengendalikan dan membagi waktu kapan mereka harus belajar, kapan bermain sosial media dan kapan bermain di lingkungannya, maka mereka bisa dikatakan aman dari pengaruh buruk smartphone.