Sarapan merupakan salah satu rutinitas pagi yang wajib dilakukan. Tidak hanya untuk orang dewasa, sarapan pun wajib dilakukan anak sebelum dia berangkat sekolah. Dengan sarapan, kebutuhan nutrisi anak akan terpenuhi, dan dia pun siap beraktivitas dengan riang.

Bagaimana jika anak melewatkan sarapan sebelum berangkat sekolah? Tentu saja akan ada banyak dampak buruk yang harus diterimanya, diantaranya :

Tidak Konsentrasi Saat Belajar

Sarapan bagaikan isi ulang bensin untuk menjalankan semua organ tubuh dengan maksimal, termasuk otak yang membutuhkan asupan nutrisi agar dapat bekerja dengan baik.

Melewatkan sarapan sama saja dengan membiarkan tubuh anak tanpa bahan bakar saat bekerja. Akibatnya, dia akan kesulitan untuk konsentrasi dan membuatnya sulit menerima pelajaran dengan baik. Tentu saja hal ini akan berimbas kepada prestasi akademik dan rasa percaya dirinya.

 Mood yang Buruk

Tidak sarapan tidak hanya berimbas pada kemampuan otak dan kekuatan fisik saja, tapi juga berpengaruh besar kepada mood atau suasana hati anak.

Penelitian yang dilakukan BBC News World di tahun 2002, menyebut jika anak yang melewatkan sarapan, akan cenderung mudah marah dan bersedih. Mereka pun akan sulit mengendalikan diri dan terlihat malas. Selain itu, sering melewatkan sarapan akan membuat anak sulit bersosialisasi.

Berisiko Mengalami Obesitas

Bukankah kalau tidak makan akan membuat anak sulit menaikan berat badan? Teori sederhananya memang begitu, tapi faktanya jarang sarapan justru akan membuat anak berisiko makan siang dalam jumlah yang banyak, sehingga berisiko mengalami obesitas.

Penelitian yang dilakukan American Diabetes Association, menyebut jika jarang sarapan akan membuat sistem metabolisme anak melambat, dan meningkatkan risiko obesitas.

Jajan Sembarangan

Rasa lapar yang tidak tertahankan akan membuat anak tergoda untuk membeli jajanan yang mudah ditemukan, termasuk jajanan di pinggir jalan.

Tentu kebiasaan ini bisa berakibat buruk karena meningkatkan risiko infeksi bakteri akibat makanan yang tidak steril, terpapar bahan kimia berbahaya, anak kekurangan gizi dan dampak buruk lainnya, termasuk risiko kematian akibat keracunan makanan.