Setiap orang punya cara tersendiri saat menghadapi kesedihan. Ada yang menangis, ada yang berbagi perasaan pada teman terdekat, ada pula yang memendamnya sendiri. Lantas, apa Milk Lovers pernah membayangkan apa yang terjadi pada tubuh saat dilanda kesedihan? Sebuah penelitian dari California  pun menjabarkan reaksi organ tubuh saat seseorang sedang berduka.

Meningkatnya ‘Percakapan’ Di Otak

Sebuah temuan yang diterbitkan dalam jurnal Cell menyebutkan bahwa para peneliti yang terlibat mendengarkan ‘percakapan’ listrik di otak saat seseorang bersedih. Bahkan komunikasi sel-sel otak di dua area spesifik meningkat saat Milk Lovers berada dalam kondisi tersebut. Kedua area tadi pun telah lama dikaitkan dengan emosi dan memori manusia.

Akan tetapi, para penelitian belum bisa menangkap jenis ‘obrolan’ yang terjadi di antara sel-sel otak tadi. Apakah berhubungan dengan penyebab atau efek perubahan suasana hati? Kendati demikian, temuan ini mengindikasikan bila kecemasan dan kesedihan memiliki manifestasi fisik terhadap otak manusia.

Dr. Vikaas Sohal, penulis senior dalam riset tersebut mengatakan sebagian besar pasien merasa harus tahu kapan mereka tertekan karena sesuatu yang berada di otak mereka bisa diukur secara konkret. Tak hanya itu, Milk Lovers, untuk sebagian pasien hal ini bisa memberi validasi sekaligus memupus stigma. Dengan begitu, mereka bisa mendapatkan metode pengobatan yang tepat.

Penelitian yang dilakukan Sohal yang juga psikiater di Universitas California itu menggunakan teknik bernama electroencephalography intrakranial atau EED. Intrakranial adalah metode yang melibatkan penamaan elektroda (kabel yang berada di dalam tengkorak dan otak). Elektroda lantas ditanamkan untuk merekam komunikasi di antara sel-sel otak atau aktivitas listrik.

Penelitian Lain Terkait Kesedihan Dan Otak

Dalam studi sebelumnya, aktivitas otak, suasana hati, dan emosi dipantau dengan pencitraan resonansi magnetik fungsional atau MRI. Namun, cara tersebut tak mampu melihat aktivitas otak secara langsung maupun mengukur perubahan yang terjadi. Maka dari itu, Sohal dan timnya memakai prosedur invasif lewat penanaman elektroda pada otak responden.

Nah, Milk Lovers, responden yang Soleh pilih merupakan pasien yang tengah menunggu operasi dengan elektroda terbenam di otak. Setidaknya ada 21 pasien epilepsi yang diteliti untuk mengidentifiksikan area di otak yang memicu kejang-kejang. Penelitian tersebut berlangsung selama 7-10 hari. Selama periode ini pula responden diminta mencatat suasana hati dengan menuliskannya di buku harian.

Hasilnya, 13 dari 21 responden memperlihatkan adanya peningkatkan komunikasi di antara amigdala (area otak terkait emosi) dengan hippocampus (emosi) saat suasana hati memburuk. Sejauh ini belum ada penjelasan akutar tentang hubungan emosi dan memori. Sohal lantas berspekulasi bila seseorang yang tertekan membuat emosi negatif dalam amigdala memunculkan ingatan sedih atau sebaliknya.