Membelikan pakaian untuk si kecil tak jarang menyulitkan, ya, Milk Lovers. Karena pertumbuhan anak yang lebih cepat, kadang ada banyak baju yang hanya dipakai dalam waktu singkat. Kendati demikian, masih ada sebagian orangtua yang rela mengeluarkan banyak uang demi membeli pakaian mahal bagi putra-putri mereka. Meski terkesan sepele, kebiasaan ini ternyata bisa mempengaruhi pola pikir anak. Bahkan ada anggapan kalau baju mahal akan memberi pengaruh buruk bagi mereka.

Benarkah demikian? Sebuah riset terbaru menyatakan kalau logo dan merek barang dianggap penting bagi sebagian anak. Lantas, kesukaan mereka terhadap logo dan merek tadi disebabkan sikap dari pihak keluarga, teman sebaya, hingga budaya para selebriti. Maka tak heran kalau ada anak yang enggan atau menolak memakai pakaian yang logo maupun mereknya tidak sama dengan milik kawannya.

Seorang sosiolog dari Universitas Leicester, Dr. Jane Pilcher, melakukan penelitian tentang pengaruh fashion terhadap anak-anak dari usia 5 sampai 12 tahun. Menurutnya, ada faktor-faktor penyebab yang mempengaruhi mode anak-anak. Sebagai orangtua, Milk Lovers mungkin bakal mengalami kesukaran untuk mengendalikan keinginan anak yang sudah dipengaruhi teman-teman sebaya. Di sisi lain, Pilcher masih optimis ada anak yang mampu menjaga sikap di tengah budaya selebriti dan konsumerisme.

Pilcher pun berpendapat kalau orangtua dapat menyelamatkan anak-anak mereka sebelum tenggelam dalam efek negatif. Misalnya dengan mengendalikan keinginan yang belum pantas sambil memberikan pemahaman supaya mereka mengerti alasan Milk Lovers melarangnya. Selain itu, Milk Lovers juga bisa memberikan solusi dengan seperti memperlihatkan contoh yang sesuai dengan usia mereka.

Dalam hal ini, Milk Lovers harus mampu mempertahankan diri, karena anak sering menggunakan tangis atau rajukan supaya keinginan mereka terpenuhi. Pilcher mengatakan, segelintir orangtua menyerah karena mereka tak tahan mendengar tangisan putra-putrinya saat keinginan mereka ditolak. Hal tersebut bisa saja terjadi kala mereka meminta dibelikan pakaian mahal yang belum pantas dikenakan. Sebagai orangtua, Milk Lovers harus tahu metode yang tepat untuk menolak sekaligus menasehatinya.

Kemudian, sebuah riset yang didanai Dewan Riset Ekonomi, Sosial, Seni, dan Humaniora dari Research Council pun menemukan hasil kalau anak-anak zaman sekarang mampu mendapatkan informasi tentang ritel pakaian hingga tempatnya. Dari sini, Milk Lovers juga harus sanggup mengawasi pemakaian gawai seperti ponsel pintar untuk mencegah anak agar tidak melakukan pembelian secara sembunyi-sembunyi.