Ketika lapar, Milk Lovers pasti bakal mendengarkan perut keroncongan atau mengeluarkan bunyi lainnya. Bunyi terebut datang dari zat otak yang mengaktifkan keinginan buat makan, lalu zat tadi mengirimkan sinyal ke usus dan lambung untuk kemudian memicu kontraksi.

Lantas, bagaimana kalau perut berbunyi, sementara Milk Lovers tak lapar? Apa yang sebenarnya terjadi dan faktor penyebabnya?

Pemicu Perut Bunyi Selain Dari Rasa Lapar

Dalam dunia medis, perut bunyi atau keroncongan dinamakan borborygmi. Kemunculannya terbilang normal apabila Milk Lover memang sedang lapar. Akan tetapi, ada sejumlah faktor lain yang memicu perut berbunyi yang perlu Milk Lovers ketahui, antara lain:

  • Makanan Sedang Dicerna

Pergerakan makanan, cairan, maupun udara di usus adalah salah satu penyebab bunyi yang terdengar dari perut. Sebagian besar dinding saluran cerna terdiri atas otot, sehingga kontraksi yang terjadi saat memproses makanan hingga bagian akhir usus menimbulkan bunyi. Umumnya, bunyi tersebut muncul beberapa jam setelah Milk Lovers makan atau di malam hari menjelang tidur.

  • Kadar Gula Darah Rendah

Rendahnya kadar gula darah ternyata bakal menyebabkan borborygmi. Mengabaikannya hanya akan membuat usus Milk Lovers kekurangan nutrisi dan darah yang diperlukan tubuh. Kemudian, untuk memberikan sinyal, dikeluarkanlah bunyi keroncongan. Faktor ini hampir sama dengan lapar, jadi Milk Lovers harus segera makan, ya.

  • Udara Berlebihan Dalam Usus

Selanjutnya, gas berlebih dalam usus yang bergerak maju-mundur menjadi penyebab lain dari borborygmi. Hal ini bisa disebabkan Milk Lovers yang makan terlalu cepat, makan sambil bicara, atau minum di tengah sesi olahraga. Kelebihan udara dalam saluran cerna pun dapat dipicu produksi gas berlebih dari makanan yang tak dicerna dengan baik.

  • Kondisi Medis Tertentu

Borborygmi bisa jadi disebabkan kondisi medis tertentu, apalagi kalau bunyinya terlalu keras atau sering. Beberapa di antaranya mencakup diare, alergi makanan, konsumsi obat pencahar, radang pada usus besar dan rektum (kolitis ulserativa), radang usus akibat infeksi, pendarahan di saluran cerna, hingga penyakit Crohn. Dalam hal ini, Milk Lovers memerlukan pemeriksaan medis.

Lalu, apa yang terjadi kalau frekuensi borborygmi berkurang atau hilang sama sekali? Milk Lovers ada baiknya hati-hati karena bisa jadi hal ini merupakan indikasi penyakit. Sebut saja infeksi rongga perut, penyumbatan pada pembuluh darah, cedera pada perut, gangguan saraf pada usus, kadar kalsium dan potasium tak normal, melambatnya gerakan usus, hingga konsumsi obat tertentu.

Milk Lovers juga bisa, kok, meredakan borborygmi dengan langkah mudah seperti minum air putih, makan dalam porsi sedikit tetapi sering, pelan saat mengunyah, dan hindari jenis makanan yang memicu produksi gas berlebih, serta segera makan sesuatu saat rasa lapar menyerang.